This post is also available in: English

Kami menyiapkan timbangan, penggaris, serta tiga gurita besar untuk kegiatan hari ini.

“Selamat pagi, semuanya!” saya menyapa para peserta dengan penuh semangat.

 Di layar, saya melihat wajah-wajah ramah peserta dari organisasi mitra kami, Japesda. Mereka sudah tidak sabar menunggu sesi pelatihan hari ini. Hari ini kami akan bermain peran untuk mengetahui proses pengumpulan data gurita, termasuk mempelajari cara mengidentifikasi jenis kelamin gurita. Pelatihan ini dirancang untuk membantu Japesda melakukan uji coba pendekatan partisipatif untuk memantau data hasil tangkapan gurita. Pendekatan partisipatif tersebut rencananya akan mereka lakukan bersama masyarakat di Desa Uwedikan, Kecamatan Luwuk Timur, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah dalam beberapa bulan mendatang.

Sesi pelatihan hari ini terasa spesial karena biasanya kami melakukan pelatihan di lapangan. Namun, karena pandemi COVID-19 kami harus menyesuaikan proses pelatihan dan melakukannya secara daring. Saya dan kolega saya—Indah—memfasilitasi pelatihan ini, sementara tim Japesda mengikuti dari jarak jauh. Dari Japesda ada Chris (Manajer Program Japesda), Nurain (Direktur Japesda), dua staf lapangan bernama Jali dan Iqbal, serta empat anggota staf lainnya yang berpartisipasi.

 

Sejak awal 2020, Japesda telah mendampingi masyarakat Uwedikan dalam perjalanan mereka memulai pengelolaan perikanan gurita. Tim Japesda telah menunjukkan kepada nelayan gurita di desa betapa pentingnya mengumpulkan data dan mencatat hasil tangkapan gurita mereka. Dengan menggunakan pendekatan partisipatif untuk pemantauan perikanan, nelayan memiliki kesempatan untuk memahami dan memimpin upaya pengelolaan perikanan mereka sendiri.

Begitu masyarakat Uwedikan tertarik untuk lebih memahami sumber daya (perikanan) yang mereka punya, kami mendorong mereka untuk berpartisipasi dalam pemantauan perikanan gurita. Mereka mulai mendata hasil perikanan gurita mereka dengan didampingi oleh pengumpul data yang berasal dari masyarakat yang didukung oleh Japesda. Data-data yang dikumpulkan meliputi nama nelayan, jumlah tangkapan, berat tiap gurita, jenis kelamin tiap gurita, dan lokasi penangkapan,” kata Nurain, Direktur Japesda.

Bagi para pengumpul data dan nelayan, sebagian besar data yang diperlukan ini mudah dikenali dan dicatat. Namun, mengidentifikasi jenis kelamin gurita belum tentu semua orang bisa. Oleh karena itu, bagian pertama dari sesi pelatihan virtual kami ini akan khusus membahas hal tersebut.

Cara mengidentifikasi jenis kelamin gurita

Jenis kelamin gurita dapat diidentifikasi melalui tiga metode, yaitu dengan mengamati tentakel, mantel, atau gonad.

Diagram bentuk fisik gurita | Foto: FAO

Mengidentifikasi jenis kelamin gurita tidaklah sulit. Bagi saya, menemukan belahan jiwa jauh lebih sulit!

“Mengidentifikasi jenis kelamin gurita tidaklah sulit. Bagi saya, menemukan belahan jiwa jauh lebih sulit!” Jali, salah satu staf lapangan Japesda bercanda, setelah dia berhasil mengidentifikasi ketiga gurita yang ada. Semuanya jantan. Jali mengidentifikasi jenis kelamin gurita-gurita tersebut dengan mengangkatnya dengan salah satu tangan. Dengan menggunakan jari di tangan yang lain, Jali membuat garis tengah (untuk membedakan bagian kiri dan kanan) yang dimulai dari antara kedua mata gurita kemudian ia memisahkan tentakelnya (kiri dan kanan).

Jali mengambil empat tentakel yang ada di kiri, lalu menghitung dari tengah (dari dekat mata) ke luar hingga tentakel ketiga. Ia mengecek ujung tentakel ketiga kemudian menerangkan kepada kami bahwa jika ujung tentakelnya bulat, berarti gurita tersebut jantan (tempat menyimpan dan melakukan transfer sperma). Namun, jika ujung tentakel meruncing dan terlihat seperti tentakel lainnya berarti gurita tersebut betina.

“Kita juga dapat menentukan jenis kelamin gurita dengan membalik mantelnya. Jika gurita tersebut jantan, kita dapat melihat satu saluran putih keluar dari bawah sistem pencernaan dan turun ke belakang kepala,” tambah Indah.

“Jika gurita tersebut betina, akan ada dua oviduk (saluran telur) yang keluar dari belakang sistem pencernaan dan turun ke belakang kepala,” lanjutnya.

 

Apa pentingnya mengidentifikasi jenis kelamin gurita?

Mengidentifikasi jenis kelamin gurita merupakan bagian penting untuk memahami siklus hidupnya karena gurita betina dan jantan dewasa secara berbeda. Di perairan Australia, Octopus cyanea jantan (spesies yang paling banyak ditangkap di Indonesia) akan dewasa pada umur 5-6 bulan (dengan berat sekitar 0,35 kg), sedangkan betina dewasa dalam waktu 7-8 bulan dengan berat 1,35 kg. Pada umur 9-12 bulan, gurita betina akan bermigrasi ke bagian karang yang lebih dalam untuk bertelur.

Para nelayan perlu mengetahui jenis kelamin gurita yang mereka tangkap untuk menjaga keseimbangan reproduksi stok gurita di alam. Dengan begitu, populasi gurita akan tetap melimpah di laut dan dapat terus menjadi sumber utama makanan dan pendapatan bagi mereka.

“Data jenis kelamin gurita yang ditangkap oleh nelayan akan menjadi informasi penting bagi masyarakat untuk memulai diskusi tentang bagaimana cara mengelola perikanan gurita secara lebih berkelanjutan,” jelas Indah saat mengikuti pelatihan.

Dengan data tersebut, masyarakat akan memiliki kekuatan untuk mengambil keputusannya sendiri. Misalnya, jika tangkapan gurita menurun, mereka dapat memutuskan untuk menutup sementara penangkapan ikan gurita agar gurita betina dapat berkembang biak untuk menjaga produksi gurita di masa depan,” tambahnya.

Simulasi proses pengumpulan data

Setelah lokakarya cara mengidentifikasi jenis kelamin gurita selesai, kami beralih ke bagian pelatihan yang paling saya dan Indah sukai: simulasi pengumpulan data di tingkat komunitas, yang ternyata sangat menghibur!

Melalui program pemantauan perikanan partisipatif, Japesda akan bekerja sama dengan dua pengumpul data dari Uwedikan. Mereka berperan dalam mengumpulkan data biologi gurita (berat, panjang mantel, jenis kelamin) dan data perikanan gurita (periode penangkapan, alat tangkap, metode penangkapan, jumlah tangkapan, dan daerah penangkapan).

Pengumpul data ini akan bekerja sama dengan nelayan dan pemangku kepentingan lainnya, termasuk pembeli lokal, pemerintah desa, dan masyarakat sekitar, untuk mengumpulkan data tentang semua kegiatan perikanan gurita di Desa Uwedikan. Hal ini dilakukan untuk lebih memahami keadaan perikanan gurita sehingga masyarakat dapat mulai mengambil keputusan seputar pengelolaan perikanan.

 

Pertama, kami berlatih skenario tentang apa yang harus dilakukan pengumpul data saat nelayan menangkap gurita. Kami memutuskan untuk melakukan permainan peran dalam bahasa lokal untuk agar lebih autentik.

Ismi—yang berperan sebagai pengumpul data—awalnya terlihat sedikit gugup, tetapi tak lama kepercayaan dirinya segera terbangun. Ia berpura-pura berbicara dengan seorang nelayan yang baru saja menangkap gurita, “Hai, Pak. Apa kabar? Kami sedang mengumpulkan data perikanan gurita. Kira-kira, kapan Bapak mulai menangkap gurita hari ini? Apakah Bapak punya waktu beberapa menit untuk mengobrol tentang tangkapan hari ini?” tanya Ismi.

Setelah itu, kami melakukan simulasi skenario zero catch, yaitu ketika nelayan kembali ke darat tanpa seekor gurita pun. Kali ini prosesnya berjalan lebih lambat tetapi cukup jenaka. Pasalnya, Franco—yang berperan sebagai nelayan—menggoda pengumpul data dengan berpura-pura tidak bisa mendengar mereka.

Bahkan dalam skenario zero catch, pencatatan data tetap penting karena nelayan telah berupaya (waktu, tenaga, dan logistik) untuk menangkap gurita

Bahkan dalam skenario zero catch, pencatatan data tetap penting karena nelayan telah berupaya (waktu, tenaga, dan logistik) untuk menangkap gurita. Walaupun pelatihan diselingi dengan senda gurau, pesan penting tentang pencatatan data ketika zero catch tetap diterima dengan baik. Data zero catch dapat menggambarkan bahwa stok gurita di laut semakin menurun, jika nelayan semakin berupaya menangkap gurita, tetapi tidak membuahkan hasil. Dengan demikian, kita dapat menginformasikan kepada masyarakat bahwa perlu ada perubahan dalam pengelolaan perikanan gurita yang mereka lakukan.

Setelah dua jam beraktivitas, kami menyelesaikan sesi latihan dengan senyum lebar di wajah. Langkah selanjutnya adalah ujian yang sesungguhnya, yaitu saat Japesda memulai pemantauan partisipatif perikanan gurita bersama masyarakat di Desa Uwedikan.

Mendukung secara virtual, tetap menyenangkan

Selama enam bulan terakhir, kami telah menyesuaikan cara kerja kami dalam mendukung mitra kami di seluruh Indonesia. Kami menemukan bahwa melakukan kegiatan secara virtual adalah cara terbaik untuk tetap memberikan dukungan teknis dan untuk belajar dari mitra kami tentang apa yang terjadi di lapangan.

Awalnya, kami pikir hal ini akan menjadi sebuah tantangan. Walaupun sebenarnya kami sudah rutin mengadakan rapat virtual dengan tim global, tetapi ternyata mitra pendukung kami membutuhkan lebih dari sekadar diskusi lewat Google Meet. Dukungan teknis membutuhkan proses fasilitasi yang jelas serta komunikasi yang interaktif dan menarik. Kami terus bekerja untuk meningkatkan dukungan yang kami tawarkan dan memberikan dukungan teknis secara daring telah menjadi kebiasaan baru kami. Kami juga menemukan bahwa kami masih dapat memfasilitasi pelatihan yang berpotensi rumit, seperti cara mengidentifikasi jenis kelamin gurita, secara virtual!

Tim Japesda mengasah keterampilan pemantauan gurita mereka | Foto: Christopel Paino | Japesda

Satu hal yang membuat keseluruhan proses menjadi jauh lebih mudah adalah keinginan mitra kami untuk belajar

Satu hal yang membuat keseluruhan proses menjadi jauh lebih mudah adalah keinginan mitra kami untuk belajar. Contohnya adalah Japesda. Setelah mengikuti lokakarya kami, sekarang mereka siap untuk melatih tim dan anggota komunitas mereka untuk mengidentifikasi jenis kelamin gurita. Mereka juga bisa mengajari anggota komunitas mereka cara paling efektif untuk mengumpulkan data perikanan gurita—dan bahkan mereka menulis blog tentang hal tersebut!

Sesi pelatihan virtual membutuhkan telepon kamera, komputer, proyektor, beberapa peralatan pengumpulan data, dan bahkan mungkin beberapa gurita. Namun, yang paling penting kami belajar bahwa melakukan pelatihan secara daring membutuhkan dua elemen kunci: keingintahuan dan antusiasme mitra kami, yang dalam hal ini mereka selalu menunjukkannya setiap saat.


Find out more about how Japesda are supporting fishing communities through the COVID-19 pandemic

Learn about why marine management pays for small-scale fishing communities across the coastal tropics


 

Posted by Rayhan Dudayev

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *