This post is also available in: English

Di dinding itu, dibelakang meja kayu tua yang Panjang tempat dimana tim FORKANI biasa makan dan bekerja hingga larut malam, terlihat sebuah poster. Poster tersebut bertuliskan nama Panjang dari organisasi: FOrum KAhedupa toudaNI – forum atau kelompok yang bekerja dalam mendukung dan mempromosikan toudani dari pulau Kaledupa (secara adat disebut ‘Kahedupa’), bagian dari kepulauan Wakatobi di Sulawesi Tenggara. Tapi saya penasaran, apa arti toudani? Saya tanya kepada salah satu anggota Forkani disebelah saya, yang sedang menikmati kopi dan rokok di sore hari.

Ternyata tidak mudah untuk menjelaskan apa makna dari kata toudani, tapi kata ini selalu muncul setiap kali anggota FORKANI berbicara mengenai visi dan misi mereka. Ternyata kata tersebut berarti kerinduan akan seseorang yang telah pergi dari kampung halaman, kerinduan akan budaya, alam dan masyarakat sekitar, kata tersebut dapat juga berarti hubungan dengan tempat dimana seseorang berasal, hubungan seperti inilah yang selama ini berusaha dibangun dan dikuatkan oleh FORKANI. Berdiri pada tahun 2002, FORKANI bekerja dengan masyarakat di seluruh kepulauan Wakatobi untuk program-program lingkungan, perikanan dan juga sosial budaya. Selain bekerja untuk masyarakat di Kaledupa, Forkani juga mendampingi organisasi-organisasi lokal berbasis masyarakat di wilayah lain di kepulauan Wakatobi.

Taman Nasional Wakatobi merupakan lembaga yang memiliki tujuan untuk melindungi terumbu karang dan populasi ikan yang terdapat di wilayah mereka, antara lain dengan cara mengurangi praktek penangkapan ikan yang merusak dan berlebihan, serta dengan membentuk daerah perlindungan laut. Akan tetapi, bagaimanapun juga hasil laut dan hutan di wilayah Wakatobi merupakan sumber mata pencaharian masyarakat yang hidup disekitar wilayah tersebut. Menjadi tantangan tersendiri dalam bekerja agar kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi, namun lingkungan, baik daratan maupun lautan tetap terjaga. FORKANI bekerja dengan Taman Nasional dan masyarakat lokal dalam memadukan kearifan dan praktek lokal, hal ini bertujuan untuk menjaga keberlangsungan habitat tersebut agar dapat terus digunakan oleh generasi di masa datang, dan juga untuk mempererat hubungan masyarakat Wakatobi dengan alam dan budaya mereka.

Nurmayanti, atau biasa dipanggil Yanti, merupakan salah satu anggota awal FORKANI, dan juga merupakan satu dari dua perempuan pertama yang terlibat dalam kerja-kerja organisasi. Yanti pertama kali bergabung dengan FORKANI kira-kira sepuluh tahun yang lalu, akan tetapi beberapa tahun setelah bergabung, dia meninggalkan Wakatobi untuk bekerja di kantor pemerintah, memenuhi harapan keluarga dan masyarakat sekitar. Namun selama dua tahun bekerja sebagai fasilitator desa untuk program pembangunan di Sulawesi Tenggara, Yanti tidak pernah berhenti merindukan Kaledupa. Pada akhirnya, Yanti meninggalkan pekerjaan tersebut untuk pulang ke Kaledupa dan kembali ke FORKANI. Kepada saya Yanti mengakui bahwa dia bahagia dengan keputusan yang dia ambil. “Saya tidak bisa membayangkan duduk dibelakang meja dan mengetik sepanjang hari”, tutur Yanti. Sangat jelas, motivasi Yanti untuk kembali adalah karena dia ingin bekerja dengan masyaraat, alam sekitar, dan juga dengan laut.

Yanti memiliki banyak sekali tugas dan peran di FORKANI. Dia adalah koordinator untuk penanaman kembali hutan bakau dengan kelompok remaja di Sandi, desa dimana Yanti dibesarkan. Yanti melakukan pemetaan kebutuhan kesehatan masyarakat lokal, dan membangun kemitraan dengan puskesmas yang terdapat di wilayah kerjanya. Selain itu, dia  melatih masyarakat lokal dan mendorong mereka untuk mengingat kembali dan mencatat cara-cara tradisional dalam bertani, menenun, memasak dan mengelola sumber daya alam, sehingga praktek-praktek tradisional ini tidak akan dilupakan dan bahkan dapat dihidupkan kembali. Yanti juga bekerja dengan masyarakat lokal di pulau Darawa untuk pengelolaan perikanan berbasis masyarakat.

Dengan banyaknya tugas dan tanggung jawab yang dimiliki oleh Yanti, saya bertanya-tanya, apa yang Yanti paling sukai dari pekerjaan ini? Dia menjawab tanpa ragu – dari semua tugas yang ada, bekerja untuk melindungi alam Kaledupa memberinya kepuasan tersendiri. Hubungan Yanti dengan alam Kaledupa sangat kuat dan telah terbukti – Yanti menyatakan pada saya, bahwa jika dia meninggalkan pulau Kaledupa, dia akan merindukan pepohonan, mata air, dan juga sungai-sungai yang mengalir. Yanti merupakan cerminan dari toudani dalam kerja-kerja FORKANI dengan masyarakat, menguatkan hubungan masyarakat dengan alam, yang merupakan bagian dari identitas dan kebanggan mereka.

Mematahkan stereotip tentang gender

Yanti sangat bersemangat dalam berbagi cerita mengenai pekerjaan, keluarga, dan masyarakat, terutama cerita tentang tantangan yang harus dia hadapi sebagai perempuan yang bekerja untuk organisasi lokal yang bergerak dalam bidang konservasi. Dengan tetap menghargai nilai-nilai agama Islam dan budaya yang membesarkan dirinya, Yanti melakukan hal yang berbeda dengan apa yang biasa dilakukan oleh perempuan-perempuan lain di komunitasnya. “Ini bukanlah pekerjaan biasa”, jelas Yanti. “Ini bukan seperti bekerja sebagai guru, sekretaris, atau pemilik usaha. Orang tahu apa yang dilakukan profesi-profesi tersebut”. Tugas dan aktivitas dari anggota FORKANI memang tidak umum dan tidak banyak diketahui oleh masyarakat, pernah terjadi kesalahpahaman tentang kerja-kerja FORKANI di Ambeua, tempat dimana kantor FORKANI berada, dan ini masih terus berlanjut. Perjalanan dengan menggunakan perahu untuk mengunjungi masyarakat di Wakatobi; percakapan selama berjam-jam dengan masyarakat untuk menjelaskan konsep pengelolaan dan konservasi – hal-hal tersebut tidak terlihat seperti layaknya pekerjaan bagi kebanyakan orang. “Teman-teman saya kadang bertanya, “kapan kamu akan mencari pekerjaan yang benar?” Ungkap Yanti dengan masam. Sekilas saya menangkap bahwa Yanti merasa terisolasi sebab dia harus menghadapi keluarganya yang sedikit kecewa dan tidak memahami pilihannya, namun Yanti tetap maju dan yakin akan keputusan dan komitmennya untuk bekerja dengan FORKANI.

Berjalan melawan arus di masyarakat yang masih tradisional tidaklah mudah, nilai-nilai yang dilekatkan masyarakat terkait peran laki-laki dan perempuan, sangat kuat di wilayah ini. Di Ambeua, beberapa orang menganggap bahwa perempuan yang belum menikah dan berada diantara para pemuda di FOKANI adalah hal yang kurang benar, dan mereka terus bertanya-tanya apa yang mereka lakukan di kantor tersebut. Yanti sudah berulang kali disuruh menikah oleh orang tuanya – perempuan biasanya menikah di usia dua puluhan disini – ujar Yanti, dan sekarang dia berusia 32 tahun. Yanti diberitahu bawa tidak benar perempuan berjilbab mengendarai motor dengan kecepatan tinggi untuk masuk hutan – hal ini terkait dengan anggapan bahwa perempuan berjilbab seharusnya tinggal dirumah dan melakukan pekerjaan perempuan. Dengan adanya semua tantangan ini, saya takjub dengan keyakinan Yanti. “Saya tidak perlu menjelaskan kepada orang-orang tentang apa yang saya lakukan – hasil dari pekerjaan saya akan terbukti dengan sendirinya”, dia berkata dengan sangat percaya diri. Yanti percaya bahwa selama dia melakukan apa yang diyakininya, maka tidak ada salahnya melakukan pekerjaan yang dipandang berbeda oleh orang lain. Pada akhirnya, setelah bertahun-tahun bergabung dengan FORKANI kini keluarga Yanti telah mendukung sepenuhnya keputusan dan pekerjaan yang menjadi pilihan hati Yanti.

Saya tidak perlu menjelaskan kepada orang-orang tentang apa yang saya lakukan – hasil dari pekerjaan saya akan terbukti dengan sendirinya”

Selama berbicara dengan Yanti, saya merasa rendah hati melihat karakter Yanti yang luar biasa. Meskipun dia tidak mengakuinya, saya yakin bahwa dengan komitmennya pada FORKANI dan juga keaktifannya, kini dia menjadi panutan bagi perempuan-perempuan muda lain di Wakatobi.

Setelah berbicara dengan Dita Kamal, anggota muda Forkani, kecurigaan saya terbukti. Ayah Dita adalah salah satu anggota perintis Forkani, beliau telah bergabung dengan FORKANI sejak beliau masih remaja. Dita mengatakan pada saya bahwa cara Yanti dan sahabatnya, Nusi, bekerja di FORKANI mengajarkan dia bahwa “kita tidak boleh membatasi diri kita dalam melakukan hal-hal yang bermanfaat bagi masyarakat, meskipun hal tersebut dipandang berbeda, dan tidak sesuai dengan apa yang biasanya dilakukan oleh masyarakat lokal”. Dita memperluas cakrawalanya, dia kini bekerja untuk mendokumentasikan budaya lokal dan praktek menangkap ikan oleh komunitas Bajau Mantigola dengan menggunakan video, fotografi, dan juga wawancara, Dita juga melatih kelompok perempuan untuk melakukan hidroponik. Dita harus membaur dengan budaya lokal, dia bahkan belajar untuk dapat berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Bajau, bahasa lokal. Sangat menginsprirasi melihat perempuan mudah mendobrak zona nyaman dan memiliki peran yang penting di FORKANI. Hal ini tidak lepas dari dukungan Yanti untuk anggota-anggota muda FORKANI, yakni dengan memberikan mereka ruang untuk berdiskusi dan belajar dari anggota yang lain, terlepas dari perbedaan peran, jenis kelamin, umur, dan kepercayaan yang dianut.

Melibatkan perempuan sebagai pembawa pesan yang berkesinambungan

Perempuan di wilayah ini, dan di Indonesia pada umumnya, memiliki peran yang sangat penting dalam keluarga. Yanti melihat bahwa melatih perempuan adalah salah satu cara untuk dapat menjangkau seluruh sektor di masyarakat. “Ketika perempuan paham, misalnya bahwasannya menebang bakau memiliki banyak dampak buruk untuk perikanan dan lingkungan, maka perempuan tersebut akan memberitahukan hal ini kepada suami dan anak-anaknya – seluruh keluarga. Jadi dengan melibatkan perempuan di suatu desa, maka seluruh sektor di desa tersebut dapat terjangkau”. Namun, selain dengan hanya berbagi informasi, memang terdapat dasar penelitian yang menyatakan bahwa melibatkan perempuan dalam kegiatan dan manajemen konservasi dapat memberikan dampak pengelolaan dan konservasi yang lebih baik (meskipun hasil penelitian tentang ini banyak berasal dari ekosistem hutan dibandingan perikanan). FORKANI mendorong anggota dari kelompok perempuan – atau disebut juga kelompok PKK – agar dapat lebih terlibat dalam pengelolaan perikanan, dengan cara menghadiri pertemuan-pertemuan dan menyuarakan pengalaman serta ide-ide mereka. Di masa mendatang, FORKANI berharap untuk dapat menggerakkan anggota PKK agar dapat menjadi lebih aktif dalam mengumpulkan, mengartikan, dan memberikan umpan balik terkait data perikanan dari dan untuk komunitas mereka sendiri. Yanti memainkan peran yang penting disini, bukan hanya karena dia telah bekerja selama bertahun-tahun dan memiliki hubungan yang erat dengan masyarakat di wilayah kerja FORKANI, namun karena dia juga menjadi contoh bagi yang lain, dia menunjukkan kepada perempuan-perempuan lain bahwa dia memiliki keterampilan, pengetahuan dan juga kapasitas yang penting untuk melakukan kerja-kerja holistik dan inklusif terkait pengelolaan perikanan.

Ketika perempuan paham, misalnya bahwasannya menebang bakau memiliki banyak dampak buruk untuk perikanan dan lingkungan, maka perempuan tersebut akan memberitahukan hal ini kepada suami dan anak-anaknya – seluruh keluarga. Jadi dengan melibatkan perempuan di suatu desa, maka seluruh sektor di desa tersebut dapat terjangkau

Dengan melalui jalan yang dipandang sebagian besar orang tidak biasa, dan juga dengan mendobrak stereotip terkait peran laki-laki dan perempuan di wilayahnya, Yanti merupakan salah satu pelopor untuk membawa masyarakat dalam mengingat dan memperkuat tradisi lokal, hubungan dengan alam sekitar, serta agar memiliki mata pencaharian yang berkelanjutan dengan mengamalkan kembali nilai-nilai toudani.

Illustration: Indah Rufiati


Read more from our Women in Fisheries series:

From research to relationships: an interview with Gayatri Reksodihardjo-Lilley, founder of Yayasan LINI


 

Ruth Leeney

Posted by Ruth Leeney

Ruth is the Communications Coordinator - Outreach for Blue Ventures, and works alongside partner organisations and communities to communicate the activities and results of collaborative fisheries management and conservation efforts. She has a PhD in marine biology and over fifteen years of research experience.

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *